Selamat Datang Di Nuzla Education Center
Tampilkan postingan dengan label Artikel Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Umum. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Februari 2012

Internet & UKM

Sukses Memajukan UKM Dengan Optimalkan Internet

pemasaran online 200x200 Sukses Memajukan UKM Dengan Optimalkan InternetKetatnya persaingan pasar dan banyaknya jumlah pelaku UKM yang belakangan ini bermunculan di Indonesia, mendorong sebagian dari mereka mulai memutar otak dan mencari strategi baru untuk memenangkan persaingan yang ada. Salah satunya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, informasi dan jaringan internet untuk memperluas jangkauan pasarnya.
Tak bisa dipungkiri lagi bahwa keberadaan internet menjadi salah satu akses bagi para pelaku UKM untuk mengembangkan usahanya. Mudahnya sistem pemasaran di internet dan luasnya jangkauan pasar online membuat para pelaku usaha menjadikan internet sebagai solusi tepat untuk menunjang perkembangan UKM di Indonesia.

Selasa, 24 Januari 2012

Pintar vs Bodoh

Terlalu Banyak Ide – Orang “pintar” biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide, sehingga tidak satupun yang menjadi kenyataan. Sedangkan orang “bodoh” mungkin hanya punya satu ide dan satu itulah yang menjadi pilihan usahanya
Miskin Keberanian untuk memulai –Orang “bodoh” biasanya lebih berani dibanding orang “pintar”, kenapa ? Karena orang “bodoh” sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose. Sebaliknya, orang “pintar” telalu banyak pertimbangan.
Telalu Pandai Menganalisis –Sebagian besar orang “pintar” sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat lengkap, mulai dari modal, untung rugi sampai break event point. Orang “bodoh” tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usaha.


Ingin Cepat Sukses –Orang “Pintar” merasa mampu melakukan berbagai hal dengan kepintarannya termasuk mendapatkahn hasil dengan cepat. Sebaliknya, orang “bodoh” merasa dia harus melalui jalan panjang dan berliku sebelum mendapatkan hasil.
Tidak Berani Mimpi Besar – Orang “Pintar” berlogika sehingga bermimpi sesuatu yang secara logika bisa di capai. Orang “bodoh” tidak perduli dengan logika, yang penting dia bermimpi sesuatu, sangat besar, bahkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai menurut orang lain.
Bisnis Butuh Pendidikan Tinggi – Orang “Pintar” menganggap, untuk berbisnis perlu tingkat pendidikan tertentu. Orang “Bodoh” berpikir, dia pun bisa berbisnis.
Berpikir Negatif Sebelum Memulai – Orang “Pintar” yang hebat dalam analisis, sangat mungkin berpikir negatif tentang sebuah bisnis, karena informasi yang berhasil dikumpulkannya sangat banyak. Sedangkan orang “bodoh” tidak sempat berpikir negatif karena harus segera berbisnis.
Maunya Dikerjakan Sendiri – Orang “Pintar” berpikir “aku pasti bisa mengerjakan semuanya”, sedangkan orang “bodoh” menganggap dirinya punya banyak keterbatasan, sehingga harus dibantu orang lain.
Miskin Pengetahuan Pemasaran dan Penjualan – Orang “Pintar” menganggap sudah mengetahui banyak hal, tapi seringkali melupakan penjualan. Orang “bodoh” berpikir simple, “yang penting produknya terjual”.
Tidak Fokus – Orang “Pintar” sering menganggap remeh kata Fokus. Buat dia, melakukan banyak hal lebih mengasyikkan. Sementara orang “bodoh” tidak punya kegiatan lain kecuali fokus pada bisnisnya.
Tidak Peduli Konsumen – Orang “Pintar” sering terlalu pede dengan kehebatannya. Dia merasa semuanya sudah Oke berkat kepintarannya sehingga mengabaikan suara konsumen. Orang “bodoh” ?. Dia tahu konsumen seringkali lebih pintar darinya.
Abaikan Kualitas -Orang “bodoh” kadang-kadang saja mengabaikan kualitas karena memang tidak tahu, maka tinggal diberi tahu bahwa mengabaikan kualitas keliru. Sednagnkan orang “pintar” sering mengabaikan kualitas, karena sok tahu.
Tidak Tuntas – Orang “Pintar” dengan mudah beralih dari satu bisnis ke bisnis yang lain karena punya banyak kemampuan dan peluang. Orang “bodoh” mau tidak mau harus menuntaskan satu bisnisnya saja.
Tidak Tahu Pioritas – Orang “Pintar” sering sok tahu dengan mengerjakan dan memutuskan banyak hal dalam waktu sekaligus, sehingga prioritas terabaikan. Orang “Bodoh” ? Yang paling mengancam bisnisnyalah yang akan dijadikan pioritas
Kurang Kerja Keras dan Kerja Cerdas – Banyak orang “Bodoh” yang hanya mengandalkan semangat dan kerja keras plus sedikit kerja cerdas, menjadikannya sukses dalam berbisnis. Dilain sisi kebanyakan orang “Pintar” malas untuk berkerja keras dan sok cerdas,
Mencampuradukan Keuangan – Seorang “pintar” sekalipun tetap berperilaku bodoh dengan dengan mencampuradukan keuangan pribadi dan perusahaan.
Mudah Menyerah – Orang “Pintar” merasa gengsi ketika gagal di satu bidang sehingga langsung beralih ke bidang lain, ketika menghadapi hambatan. Orang “Bodoh” seringkali tidak punya pilihan kecuali mengalahkan hambatan tersebut.
Melupakan Tuhan – Kebanyakan orang merasa sukses itu adalah hasil jarih payah diri sendiri, tanpa campur tangan “TUHAN”. Mengingat TUHAN adalah sebagai ibadah vertikal dan menolong sesama sebagai ibadah horizontal.
Melupakan Keluarga – Jadikanlah keluarga sebagai motivator dan supporter pada saat baru memulai menjalankan bisnis maupun ketika bisnis semakin meguras waktu dan tenaga
Berperilaku Buruk – Setelah menjadi pengusaha sukses, maka seseorang akan menganggap dirinya sebagai seorang yang mandiri. Dia tidak lagi membutuhkan orang lain, karena sudah mampu berdiri diatas kakinya sendiri

By: Bob Sadino

Sabtu, 21 Januari 2012

Proses Demokrasi Kita


PROSES DEMOKRASI KITA
(PERSPEKTIF ELIT DAN PLURALIS)
Oleh: Nuzlagadanta, S.Sos.*)

Partai politik adalah suatu perkumpulan terorganisasi untuk menyokong suatu prinsip atau kebijaksanaan (policy), yang oleh perkumpulan itu diusahakan dengan cara-cara yang sesuai. Dengan konstitusi atau UUD, agar menjadi penentu cara melakukan pemerintahan.
Kehidupan politik dibagi dalam dua sektor yaitu sektor pemerintahan dan sektor masyarakat. Masyarakat sebagai penghasil masukan (input), yaitu terwujud pernyataan keinginan dan tuntutan masyarakat (Social demand), sedangkan pemerintahan berfungsi sebagai keluaran (output), yaitu menentukan kebijaksanaan umum yang bersifat keputusan politik (political decision). Persoalan utama ialah bagaimana kebijaksanaan pemerintah hasil keluaran (output) dapat sesuai dengan pemasukan (input), yaitu keinginan dan tuntutan rakyat ?.

Mempunyai ‘Suatu’ yang Sama
Perkumpulan-perkumpulan itu diadakan karena adanya kepentingan bersama. Selain mempunyai kepentingan bersama, suatu perkumpulan khususnya partai politik, akan muncul karena anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama.
Suatu yang dapat menimbulkan atau munculnya suatu partai dapat karena, pertama, sekumpulan orang bersama-sama mencintai orang atau keturunan dari orang tertentu, dan melahirkan partai. Misalnya: partai raja (royalisten), partai Bonaparte (Bonapartisten). Partai-partai seperti ini sudah hampir tidak ada lagi. Kedua, sekumpulan orang yang mempunyai kepentingan yang sama, seperti: partai buruh, partai tani, dan lain-lain. Ketiga, adanya azas dan cita-cita politik yang sama, seperti: partai komunis, partai nasional, dan lain-lain. Keempat, adanya persamaan dalam kepercayaan dalam beragama, seperti: partai islam (baca: partai yang berbasiskan islam), partai katolik, dan lain-lain.


Demokrasi Alat untuk Mencapai Tujuan
Demokrasi dalam arti umum memang dapat dinyatakan sebagai salah satu cara, jalan atau metode untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan, tanpa melihat wujud dari tujuan tersebut. Dalam hal ini patut disimak pendapat Bung Karno yang menyatakan bahwa, teknis kedaulatan rakyat atau dalam bahasa asing demokratie, sekedar adalah satu alat, alat untuk mentjapai tujduan. Tehnis tudjuannya ialah suatu masyarakat jang berbentuk suatu hal, entah masyarakat kapitalis, entah msyarakat sosialis, entah masyarakat apa.(Soekarno: 154).
Lain halnya dengan bangsa Indonesia, kerakyatan atau demokrasi disamping berfungsi sebagai alat, ia juga merupakan suatu kepercayaan, satu keyakinan bahwa hanya lewat cara ini sajalah yang dapat dibenarkan oleh pandangan atau keyakinan hidupnya, dan hanya dengan cara seperti inilah yang dapat menghantarkan bangsa Indonesia mencapai tujuan hidup berbangsa dan bernegara. “… bagi kita bukan sekedar satu alat tehnis sadja, tetapi suatu ‘geloof’, satu kepercayaan dalam usaha mencapai bentuk masyarakat jang kita cita-citakan”, (Soekarno: 146),
Istilah kerakyatan sendiri dalam analisa kefilsafatan mengandung pengertian adanya sifat-sifat dan keadaan dari dan didalam negara yang harus sesuai dengan hakekat rakyat, dan semuanya adalah untuk kepentingan dan keperluan rakyat. Dan karena demikian sifat dan keadaannya maka ‘negara bukan untuk satu orang, bukan negara satu golongan, walau golongan kaya, … tetapi negara semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu ‘…’ negara didasarkan atas rakyat, tidak pada golongan, tidak pada perseorangan’. (Notonagoro:132).

 Rakyat yang Berkuasa

Sesuai dengan azas demokrasi, yaitu pemerintahan oleh, untuk, dan dari rakyat, maka rakyat ikut didalam kehidupan politik. Istilah demokrasi pada asalnya berarti ‘rakyat yang berkuasa’ atau ‘government orang rule by peoples’. Sementara W. M. Bonger mendefinisikan demokrasi dengan rumusan “suatu bentuk pemerintahan dari suatu kolektifitas yang memerintah diri sendiri, dalam hal mana sebagian besar anggota-anggotanya turut ambil bagian, baik langsung maupun tidak langsung, dan dimana terjamin kemerdekaan rohani dan persamaan buat hukum”. (Bonger: 32).
Prinsip demokrasi merupakan satu-satunya prinsip yang sesuai dengan hakikat manusia selaku mahluk sosial, atau sesuai dengan prinsip peri kemanusiaan dimana setiap manusia wajib memperlakukan kepada sesamanya sebagai manusia yang menyandang kemuliaan dan kehormatan. Adagium yang menyatakan ‘Mankind is one’ hanya dapat diaktualisasikan secara konkrit ditengah-tengah kehidupan bersama manakala kehidupan bersama tersebut diletakkan di atas prinsip demokrasi.
Tidak ada apa yang namanya “demokrasi” tanpa menghargai martabat manusia, tanpa menjunjung tunggi serta melindungi hak-hak asasi manusia. Demokrasi hanya dapat ditegakkan diatas prinsip menghargai persamaan hak-hak asasi manusia.

Berpolitik untuk Suatu Keinginan
Cinta akan kekuasaan, dalam arti yang seluas-luasnya, adalah keinginan untuk memiliki kemampuan guna menimbulkan pengaruh yang diinginkan terhadap dunia lahiriah, apakah itu manusia atau bukan manusia. Keininginan ini merupakan suatu bagian yang pokok dari kodarat manusia, dan pada orang-orang yang sangat giat, merupakan bagian yang sangat besar dan penting.
Setiap keinginan, apabila tidak dapat dipuaskan dengan segera, menimbulkan suatu angan-angan untuk memiliki kemampuan untuk memuaskannya, dan oleh sebab itu menimbulkan suatu bentuk cinta akan kekuasaan. Hal ini berlaku baik bagi  keinginan-keinginan yang paling baik maupun yang paling buruk. 
Cinta akan kekuasaan, agar mendatangkan maslahat, harus dikaitkan dengan suatu tujuan selain kekuasaan. Maksudnya bukanlah bahwa tidak boleh ada cinta akan kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri, karena alasan itu pasti akan muncul dalam perjalanan suatu karir yang aktif. Yang dimaksud adalah bahwa keinginan akan suatu tujuan yang lain harus sedemikian kuatnya sehingga tidak akan memuaskan kecuali apabila ia abadikan kepada tujuan itu.



Penyakit Cinta Kekuasaan
Yang terjadi di negeri kita ini sekarang adalah cinta akan kekuasan yang sangat mendalam memasuki pikiran para elit politik kita, telah duduk dikursi kekuasaan, mereka (baca: elit politik) bukannya pusing untuk membangun bangsa yang mengalami krisis yang berkepanjangan dari segala bidang, justru pusing memikirkan bagaimana supaya bisa tetap untuk berkuasa.
Konsepsi politik sebenarnya berdasar atas pola dan orientasi pada daya upaya untuk mengatur negara dengan sebaik-baiknya dan memberikan kesejahteraan dan keamananbagi rakyat, dan konsepsi politik nasional kita ini berorientasi pada pembangunan.
Kalau partai politik (parpol) akan dianggap sebagai proses demokrasi dengan dinilai dari jumlah partai politik itu sendiri, maka di Indonesia merupakan negara yang sangat demokratis, karena semakin banyaknya partai politik yang bermunculan kepermukaan perpolitikan di tanah air dengan atas dasar hak bagi setiap warganegara dalam pembentukan partai politik (parpol) baru, guna menyuarakan kepentingan-kepentingan yang sama, cita-cita yang sama partisannya kedalam lembaga-lembaga pemerintahan baik itu di Legislatif atau Yudikatif.
Dengan alasan-alasan untuk membangun bangsa yang sedang carut-marut ini, dengan memunculkan partai politik (parpol) baru yang sangat menjamur di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini akan sangat berbahaya bagi keutuhan bangsa itu sendiri. Dengan semakin banyaknya partai politik (parpol) yang ada maka suara rakyat akan semakin terpilah-pilah dan rakyat akan mengalami kebingungan-kebingungan yang disebabkan olehnya dan apabila kefanatisan terhadap partai politik (parpol) itu sendiri sangatlah kuat maka akan mudah menyebabkan disitegrasi bangsa menjadi berkeping-keping, karena terpecahnya masyarakat kedalam kubu-kubu ataupun blok-blok yang dinamakan partai politik (parpol).
Cita-cita untuk menjadikan partai politik (parpol) sebagai penyalur aspirasi rakyat agar terciptanya proses yang diimpi-impikan yaitu demokrasi, akan sulit tercapai karena ketidak dewasaan bangsa kita dalam berpolitik. Elit politik yang seharusnya memberikan contoh bagaimana berdemokrasi yang baik justru terjebak dalam retorika politik untuk memperjuangkan kepentingan pribadi vested interest semata.
Sudah waktunya bagi para elit politik untuk memberikan contoh yang baik dan membangun kesejahteraan bagi rakyat Indonesia bukan sekedar memperjuangkan kepentingan partainya saja. Dan rakyat hanya menginginkan hidup yang makmur, aman dan sejahtera secara menyeluruh. Bendera-bendera partai politik yang semakin bertambah banyak tidak akan mampu memberi rasa kenyang kepada rakyat yang sedang kelaparan akan rasa aman, tentram, dan sejahtera.


*) Pemehati  Sosial Kemasyarakatan dan Politik

Kesadaran Yang Tertidur


Kesadaran Yang Tertidur
Oleh: Nuzlagadanta, S.Sos *)

Perkembangan dalam perpolitikan bangsa kita saat ini sangat mangagumkan. Disatu sisi semakin hari semakin menunjukkan “kemajuan”, dalam kerangka berdemokrasi.
Berdemokrasi mempunyai banyak makna, tergantung pada kacamata yang mamakainya. Mari kita telaah dari “kacamata awam”. Berdemokrasi mempunyai makna yang ternyata sangat mencengangkan. Ber mempunyai makna, saling, demo mempunyai makna, menunjukkan, mempraktekkan; sedangkan kras-i mempunyai makna, kekerasan, egois-kita.
Gejala “kemajuan” dalam berdemokrasi dapat kita lihat dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari kita, secara langsung ataupun melalui berbagai media yang ada. Melalui media elektronik yang diwakilkan dengan televisi ataupun melalui media cetak dalam bentuk koran yang kita baca.
Di sana banyak bercerita tentang banyaknya dari kita yang masing-masing individu, kelompok ataupun golongan yang saling menunjukkan keegoisan kita. Bahkan, dengan kekerasan yang dapat menimbulkan kerugian dari segala aspek. Berakibat pada diri kita sendiri baik secara moril ataupun materil, secara langsung ataupun tidak langsung. Tentunya dalam jangka pendek maupun untuk kurun waktu yang cukup lama.
Kita tinggalkan sejenak berdemokrasi dalam “kacamata awam”, dengan melihat berdemokrasi dalam “kacamata intelektual”.
Berdemokrasi menurut mereka mempunyai makna, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dengan demikian masing-masing dari kita yang “mampu” dan tidak puas akan kinerja partai-partai politik yang sudah ada, berhak untuk membentuk partai politik baru.
Maka terbentuklah puluhan warna-warni partai politik untuk mewarnai “kemajuan” dalam berdemokrasi bangsa kita. Dengan motto “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”, bahkan sampai-sampai rakyat sendiri bingung untuk memilih atau mengikuti partai mana yang akan mereka pilih nantinya. Karena memang semua partai tentunya baik, sudah memenuhi kriteria dan syarat untuk lolos kualifikasi, dalam kontes partai mana yang paling cantik, rupawan, cerdas dan pintar, serta pandai merayu-rayu untuk mengambil hati rakyat.
Panggung perpolitikan bangsa kita, dalam meramaikan demokrasi juga tidak terlepas dari individu, kelompok atau golongan yang ber-uang. Mereka membelanjakan harta yang berlimpah dalam suatu partai politik. Supaya pargerakan suatu partai politik dalam menjalankan suatu visi dan misi berjalan dengan lancar. Karena berdemokrasi dalam “kacamata orang ber-uang” mempunyai makna, dari saya, oleh anda dan untung saya lagi.
Sedangkan dalam “kacamata orang miskin”, berdemokrasi itu  mempunyai makna yang sebenarnya bagi mereka sendiri tidak terlalu ingin atau diminati untuk dimaknai yakni, dari rakyat, oleh anda dan ujungnya sama saja. Bagi mereka, selama berulangkali secara aktif ikut serta dalam hajatan bangsa dalam pemilihan pemimpin ataupun wakil-wakil bagi mereka.
Akan tetapi kehidupan mereka masih sama saja dengan lilitan hutang dan tali kemiskinan. Sehingga menimbulkan rasa kemalasan untuk aktif ikut serta lagi dalam perhelatan akbar dalam berdemokrasi, yang biasa kita sebut dengan golput (golongan putih).
Negara saja mempunyai kekayaan alam yang berlimpah ruah, bahkan kayupun dilempar bisa jadi tanaman, mempunyai banyak hutang atas nama rakyat, apalagi kita orang yang miskin. Tidak perlu jauh-jauh kita melihatnya, air bersih misalnya, yang seharusnya menjadi hak pokok bagi hidup orang banyak semakin dikomersilkan dan mahal harganya.
Terkadang kita memang terlalu memaknai segala sesuatu itu hanya secara kulitnya saja. Bahkan acuh terhadap hal-hal yang bersangkutan dengan isi, yang sebenarnya terkandung didalamnya. Padahal biasanya kalau kita memakan buah, tentu kita akan memakan dengan terlebih dahulu membuka atau membuang kulitnya terlebih dahulu, baru kemudian kita akan memakan isi yang ada dibalik dari suatu sosok yang bernama kulit.
Walaupun kulit buah terkadang kalau kita melihat sepertinya enak untuk dimakan. Buah jeruk misalnya, warna dan bentuk kulitnya akan sangat membuat selera untuk memakannya semakin bertambah. Tapi, coba saja kalau kita makan kulitnya tentunya seketika itu juga kita akan memuntahkannya.
Dalam realitas kehidupan kita terkadang justru sering menikmati segala persoalan kehidupan, yang ternyata itu semua baru kulitnya saja, dan dengan seketika kita akan memuntahkan persoalan kehidupan. Hal tersebut mengakibatkan selera untuk kita mencicipi bahkan merasakan bagaimana rasa isi yang ada didalamnya hilang.
Tetapi karena kita memang sudah terbiasa dengan hal-hal yang biasa bagi kita (rutinitas sehari-hari). Dengan serta merta tidak lagi berminat untuk menjadi lebih baik dalam berbuat hal-hal yang luar biasa bersama isi hikmah yang terkandung dibalik kulit yang tersasa pahit dan bahkan menyakitkan. Apalagi berbuat untuk keluarga, tetangga, masyarakat, bangsa dan tanah air.
Bahkan yang lebih parah lagi, sebenarnya kita tahu dan paham betul kalau kita itu sedang “dijajah” dan diberlakukan semena-mena oleh “penjajah”, akan tetapi justru kita sering terlena dan terbuai bahkan merasa nyaman kalau kita itu “dijajah”.
Lagi-lagi kita jangan hanya mengambil kulitnya saja, dengan mengartikan penjajah sebagai orang, kelompok dan bahkan bangsa yang menyerang. Dengan menggunakan senjata perang yang canggih-canggih, dengan sertamerta menduduki dan menguasai wilayah kita dan menjadikan kita sebagai budak para penjajah tersebut. Tetapi coba kita lihat lebih jauh dan mendalam pada isi hati dan pikiran jernih kita.
Sebenarnya siapakah penjajah yang sesungguhnya dan siapakah yang dijajah dan diberlakukan semena-mena laksana sesosok budak yang tak berdaya?.
Coba kita lihat asumsi dari sosok “orang awam”, dengan memegang teguh keegoisan dan kekerasan. Terbentuk oleh kehidupan sekarang yang memang semakin keras nyaris seperti tinggal di hutan, siapa yang kuat dia jadi raja. Asumsi dari kaum “intelektual”, dengan memegang teguh pada prinsip keilmiahan dan ambisi-ambisi perubahan dengan menggunakan “bahasa tinggi”. Sehingga masyarakat banyak yang tidak mengerti apa yang sedang disampaikan. Asumsi “orang ber-uang”, dengan memegang teguh prinsip dengan uang semuanya dapat kita beli dan pantang dengan kerugian. Dan asumsi “orang miskin”, adalah dengan memegang dengan teguh rasa kepasrahan tanpa usaha dan diiringi dengan lemahnya motivasi untuk berubah yang biasa kita sebut dengan malas. Karena prinsipnya yang penting bisa makan dan hidup, bahkan lebih takut lapar dari pada takut akan mati.
Jadi pada dasarnya secara tidak sadar, kita telah dijajah oleh ketidak puasan, keegoisan, keserakahan, ambisi yang ingin serba cepat, kemewahan, kepasrahan dan rasa malas. Serta masih banyak lagi yang takkan ada habisnya kalau kita sebut satu persatu hal-hal yang menjajah dan menjebak kita.
Kesadaran diri, itulah yang sebenarnya diperlukan bagi kita untuk supaya kita terbebas dari penjajah yang sangat kejam dan tidak pandang bulu. Kapan kita pernah menyisihkan waktu untuk menyadari kalau kita sebenarnya telah terjajah oleh diri kita sendiri?. Karena kita memang terlalu banyak membuang waktu untuk menyalahkan dan dengan enteng menuding keadaan serta sibuk mencari-cari kesalahan orang, kelompok atau golongan lain.
Alangkah sayangnya dan mubazir kalau kita berlarut-larut dalam berdemokrsai tanpa adanya kesadaran pada diri kita masing. Bukankah bangsa kita ini sudah sangat besar mengeluarkan dana untuk membiayai demokrasi di tanah air tercinta sekarang ini.
Kita hidupkan kembali musyawarah untuk mufakat dengan kesadaran kita, yang selama ini “mati”. Karena istilah yang sudah biasa kita pakai dengan istilah one man one vote (satu orang satu suara) tidak buruk tapi terkadang menjebak dan menjadi bumerang bagi kita. Satu suara kita yang berkualitas sama nilainya dengan satu suara kita yang tidak berkualitas. Coba kita bayangkan kalau ternyata suara kita yang tidak berkualitas lebih banyak, akan dibawa kemana tanah air tercinta kita ini oleh kita yang merasa berkualitas padahal tidak.
Sekarang bangsa kita sudah mendekati perhelatan akbar dengan menghabiskan dana rakyat secara besar-besaran. Yakni pemilihan anggota legislatif yang kemudian disusul dengan pemilihan kepala negara secara langsung. Cuacapun pada musim dingin terasa panas terbawa oleh semakin sengitnya “pertempuran-pertempuran politik” dalam memperebutkan “pulau surga”.
Akankah kita yang dipilih atau kita yang akan memilih masih ingin di “jajah” oleh “penjajah” yang sangat kejam dan tidak pandang bulu, serta menginginkan kita hancur lebur, secara cepat atau lambat dengan menggunakan segala cara?. Tentu harus kita katakan TIDAK, pada hati dan pikiran kita yang jernih. Untuk itu kita bangunkan kesadaran kita yang tertidur panjang dan pulas dengan mendengarkan suara-suara kebenaran yang hakiki Yang menguasai lahir bathin kita.

*) Pemerhati  Sosial Kemasyarakatan dan Politik